Tampilkan postingan dengan label gelombang 18. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gelombang 18. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juni 2021

BLOG SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

Malam ini pertemuan ke-27 kelas belajar menulis bersama PGRI. Saya tidak bisa mengikuti perkuliahan secara keseluruhan karena sedang berada di ibukota propinsi Sulawesi Selatan. Saya berangkat ke kota Makassar sejak jam 9 pagi dan tiba jam 12.00 WITA. Berkat pertolongan Allah, urusan di sana berjalan lancar dan selesai menjelang waktu sholat Magrib. Alhamdulillaah...
Dari flyer kuketahui bahwa Bu Aam sebagai moderator akan mendampingi seorang narasumber keren malam ini. Namanya Nani Kusmiyati, S. Pd., M.M., CTMP. Beliau lebih akrab disapa dengan sebutan Mayor Nani. Beliau seorang tentara perempuan, seorang penulis sekaligus motivator hebat di dunia literasi.

Mayor Nani lahir di Kediri 12 September 1966. Saat ini beliau bekerja di Lemhannnas dengan jabatan Kasubbag Kerma Multilateral Luar Negeri. 30 buku antologi dan 1 karya buku solo telah diterbitkan. Untuk mengenal Mayor Nani lebih lanjut, silakan mampir ke blognya di link berikut: https://nani2teacher1navy.wordpress.com/2021/03/03/curriculum-vitae-nani-kusmiyati/

Mayor Nani memulai perkuliahan dengan menyatakan bahwa blog merupakan sarana belajar dan mengajar. Beliau menguatkan pernyataan tersebut dengan memaparkan pengalamannya sendiri. Pengalaman pertama menggunakan blog sebagai media belajar dirasakan oleh Mayor Nani ketika menjadi peserta di kelas belajar menulis bersama PGRI gelombang ke-8. Dari situlah Mayor Nani bisa menerbitkan buku solo perdananya berjudul ‘Februari Bermakna’.
    
Blog dimanfaatkan oleh Mayor Nani dalam mengajar Bahasa Inggris ke personel militer dan PNS di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI), tepatnya di Angkatan Laut (AL). Meskipun usia mereka tidak lagi muda dan mayoritas telah berkeluarga, semangat belajarnya tidak kalah dengan siswa maupun mahasiswa pada umumnya.

Tujuan anggota TNI-AL belajar Bahasa Inggris bermacam-macam. Namun, pada umumnya tujuan mereka antara lain sebagai berikut:
1.      Sebagai persiapan sekolah atau misi di luar negeri
2.      Ingin mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi sedangkan Bahasa Inggris menjadi salah satu persyaratan
3.    Ingin mengajarkan Bahasa Inggris ke anak-anaknya di rumah dan membantu menyelesaikan tugas-tugas sekolah mereka.

Proses pembelajaran di mana-mana semuanya sama. Tidak sepenuhnya berjalan lancar dan tanpa hambatan. Begitu pula yang dirasakan oleh Mayor Nani. Mengajar di kelas yang heterogen dalam berbagai segi (usia, latar belakang pendidikan, pangkat dan jabatan) merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi Mayor Nani.    
    
Seorang guru sepatutnya berusaha menciptakan suasana belajar yang dapat diterima oleh siswanya. Dapat diterima bukan berarti memuaskan semua siswa sebab guru juga manusia yang tentunya memiliki keterbatasan.

Di awal- awal penggunaan blog dalam pembelajaran, beberapa siswa Mayor Nani menemui beberapa kendala, terutama dari segi penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Siswa yang sudah berumur sukanya yang praktis-praktis saja. Maklumlah, mereka tidak terbiasa dengan aplikasi-aplikasi baru seperti blog. Jadi, mereka menyelesaikan tugasnya di laptop atau PC lalu mengirimkan ke WhatsApp.

Bagi siswa yang masih muda, ditugaskan oleh Mayor Nani untuk belajar membuat blog melalui YouTube. Siswa yang sudah berhasil membuat blog kemudian diminta untuk mengajari teman-teman sekelasnya. Akhirnya beberapa diantara mereka sudah bisa membuat blog dengan berbagai desain. Bahkan menurut Mayor Nani, desain blog siswanya lebih bagus dari blog miliknya. (Wah, ini berarti Mayor Nani berhasil jadi guru yah, pemirsa!)

Lalu, apa manfaat blog dalam kegiatan pembelajaran? Sebagai guru, blog sangat bermanfaat sebagai media penyimpanan materi atau bahan ajar. Materi tersebut akan lebih mudah dibagikan melalui WhatsApp ataupun sosial media lainnya. Selain itu, materi pembelajaran tidak akan hilang dan dapat dibaca berulang-ulang jika siswa membutuhkannya.

Di kelas Bahasa Inggris, Mayor Nani meminta siswanya mengerjakan tugas di blog dan share link blog ke grup WA. Para siswa dapat memberi komen tentang isi dari blog temannya. Beliau juga mengoreksi melalui blog. Di hari berikutnya apa yang mereka kerjakan didiskusikan di kelas atau di WAG.

Sebagai guru, Mayor Nani tidak mau terjebak dengan homework (tugas PR) yang diberikan.  Beliau harus membaca cepat dan menggaris bawahi kalimat atau kata dengan tata bahasa (grammar) yang kurang tepat. Beliau mengumpulkan kesalahan-kesalahan tersebut dan dibahas secara umum di kelas atau melalui grup WA.

Adapun manfaat blog untuk siswa tentu lebih beragam, diantaranya sebagai berikut:
1.      Memiliki blog menjadi pengalaman pertama dan berkesan.
2.      Siswa akan menjadi ketagihan menulis di blog.
3.      Siswa bisa saling berkomentar dengan Blog Walking (BW).
4.      Tulisan dalam blog bisa dibaca oleh banyak orang.
5.      Dapat menumbuhkan kebanggaan tersendiri bagi siswa blogger.
6.      Menulis di blog juga dapat menghasilkan karya berupa buku.

 Mayor Nani menyatakan bahwa penggunaan blog sebagai media mengajar dan belajar Bahasa Inggris sangat bermanfaat. Meskipun pada awalnya siswa menulis di blog karena terpaksa selanjutnya mereka menjadi terbiasa. Kemampuan menulis (Writing) dalam Bahasa Inggris mereka juga meningkat. Selain itu, kemampuan (Speaking) mereka juga bertambah karena mereka diminta untuk merekam suara berbicara dalam Bahasa Inggris dan dishare di group (jika pembelajaran Daring). Pada saat mereka belajar dengan tatap muka, mereka diminta untuk bicara di depan kelas. Bagi level dasar, siswa diperbolehkan membawa drafnya dan dibaca di depan teman sekelasnya.

Sebagai tambahan, Mayor Nani menyampaikan bahwa bagi seorang penulis blog dijadikan sebagai sarana untuk menyebarkan hal-hal yang sifatnya mengedukasi masyarakat. Pengalaman hidup bisa dituangkan dalam blog. Bisa jadi dari pengalaman itu dapat memberi solusi atau mencerahkan hidup orang lain yang membacanya.

Ada beberapa alasan seseorang sehingga dia mau menulis. Berdasarkan pengalaman sekaligus pengamatan narasumber terhadap lingkungan sekitarnya, setidaknya ada empat hal yang menjadi faktor pendorong kegiatan menulis.

1.      Manusia tidak hidup selamanya.
Dengan menulis, seseorang masih bisa membagikan kebaikan melalui tulisannya meskipun raganya telah tiada.

2.      Untuk meningkatkan level pribadi penulis.
Seseorang yang biasa-biasa saja bisa menjadi terkenal dengan menulis. Seorang yang tinggal di pelosok desa dapat mengangkat nama baik daerahnya dengan adanya karya berbentuk tulisan.

3.      Untuk menginspirasi orang lain.
Melalui karya tulis, penulis dapat memotivasi banyak orang agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

4.      Untuk mendapatkan penghasilan.
Ketika karya tulis berbentuk buku telah diterbitkan, tentu penulis bisa memperoleh keuntungan finansial dari hasil penjualan bukunya. Apalagi jika buku tersebut merupakan ‘best seller’, pendapatan penulis pasti akan semakin besar.

Dalam kegiatan pembelajaran, Mayor Nani selalu menegaskan kepada siswanya untuk terus memupuk kebiasaan menulis di blog. Beliau menyampaikan bahwa konsistensi seseorang dalam menulis dapat dijaga melalui beberapa cara, diantaranya:

a.      Membuat target menulis setiap hari
b.      Bergabung dengan teman atau komunitas menulis
c.       Membuat target penerbitan buku

Dari penjelasan Mayor Nani dapat disimpulkan bahwa blog bisa digunakan sebagai media belajar dan mengajar untuk mata pelajaran apapun. Yang terpenting adalah adanya kemampuan dan kemauan guru untuk mengaplikasikan di kelasnya masing-masing. Semoga saja guru-guru di Indonesia dapat meniru atau memodifikasi model pembelajarannya dengan memanfaatkan blog seperti yang telah dipaparkan oleh narasumber. Terima kasih, Mayor!




Senin, 14 Juni 2021

Langkah Mudah Menulis Buku Autobiografi

Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin... Puja dan puji syukurku hanya teruntuk pada Tuhan Pencipta alam semesta. Hari ini saya mulai beraktivitas kembali seperti biasa. Meskipun masih belum sembuh total, tetap saya syukuri kondisi tubuhku saat ini.

Dalam sepekan terakhir, saya terserang gejala vertigo. Kepala ini terasa sakit yang tak tertahankan sehingga saya hanya bisa berbaring sambil memejamkan mata selama berhari-hari. Setiap kali saya bangun, kepala terasa pusing, keringat dingin mengucur, dan menyebabkan rasa yang tidak nyaman di sekujur badan. 

Alhamdulillaah, tak henti kuucapkan kalimat syukur karena saya bisa lagi bergabung dalam perkuliahan di WAG. Ada rindu di hati ingin bercengkrama dengan rekan-rekan seperjuangan di gelombang 18, juga dengan para senior-senior hebat.
Malam ini rinduku terobati. Terima kasih atas doa kesembuhan buatku, pemirsa.

Malam ini merupakan pertemuan kedua puluh enam. Untuk kedua kalinya, perkuliahan dipandu oleh ketua kelasku yang cantik dan baik hati, Bu Maesaroh, M. Pd. Saya lebih senang memanggilnya dengan sebutan Bu May. Adapun narasumber yang bertugas yaitu pak Suparno, S. Pd., M. Pd. Tema kegiatan kali ini tentang menulis buku autobiografi.
Sebelum mempersilakan narasumber, moderator cantik yang dikenal sebagai guru blogger milenial mengajak para peserta untuk membuka acara dengan melafalkan kalimat basmalah (Bismillaahirrahmaanirrahiim). Semoga pertemuan malam ini diberkahi oleh Sang Maha Memberi. Aamiin...

Dari file CV yang dibagikan, diketahui bahwa pak Suparno adalah seorang kepala sekolah di SMP 2 Karangrejo Magetan. Beliau kelahiran Magetan pada tanggal 25 Juli 1966. Beliau memulai karirnya di dunia pendidikan dengan menjadi guru di SMP 2 Kawedanan. Sampai saat ini beliau menjabat sebagai seorang kepala sekolah yang telah mencapai posisi kepangkatan di atas rata-rata. Tahun ini beliau akan menduduki pangkat IVc. Wah, sudah hampir mencapai puncak, pemirsa!

Sebelum membahas lebih lanjut tentang teknik menulis buku autobiografi, lebih awal pak Suparno menyapa dan mendoakan para peserta. Terima kasih, pak! Selanjutnya beliau membagikan sebuah tulisannya di link http://suparnomuhammad.blogspot.com/2021/03/0_89.html?m=1 Saya langsung berkunjung di blog beliau dan memberi kenang-kenangan dalam bentuk komentar.

Pak Suparno menyampaikan bahwa sebagian besar tulisannya bertema tentang motivasi. Ada tiga bentuk motivasi yang sering beliau tulis, yakni motivasi beribadah, motivasi dalam bekerja, dan motivasi dalam belajar. Ketiga jenis motivasi ini merupakan hal terpenting bagi kehidupan manusia di dunia hingga ke akhirat kelak.

Setelah menyimak rekaman suara pak Suparno di WAG, saya sangat terkesan pada kata-kata bijak yang dikutip dari dosen beliau (mantan rektor IKIP Surabaya). Beliau mengatakan bahwa kita ini dilahirkan sebagai orang yang biasa-biasa saja. Jika ingin meraih kesuksesan, maka kita harus berjuang luar biasa, bekera luar biasa, dan berdoa luar biasa. Sungguh menginspirasi yah, pemirsa!

Menurut pak Suparno, menulis buku autobiografi itu sangatlah mudah. Beliau mengacu pada pernyataan para pakar bahwa seorang penulis dapat menemukan ide tulisan berdasarkan apa yang dilihat, didengar, maupun dialami sendiri. Maka buku autobiografi itu disusun sesuai dengan pengalaman pribadi penulis. Berbeda dengan buku biografi yang menceritakan tentang perjalanan hidup orang lain.

Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk menulis buku autobiografi, seorang penulis bisa melewati beberapa langkah praktis berikut ini:
1. Buat outline atau kerangka tulisan. 
Hal ini sangat penting dilakukan agar tulisan dapat terukur dan tidak terjadi pengulangan cerita. Tulisan dapat dimulai dari kelahiran, masa-masa sekolah (SD sampai pendidikan terakhir), bekerja, menikah hingga memiliki anak, dan seterusnya. Pahit getirnya kehidupan yang dilalui juga bisa dikisahkan dalam bab tertentu.

2. Susun jadwal menulis.
Bagian ini yang sering menjadi kunci utama ketuntasan tulisan. Jika jadwal telah dibuat secara detail, maka penulis harus mematuhinya. Tujuan utamanya agar target penulis bisa segera tercapai.

3. Siapkan data-data pendukung.
Dokumen pendukung kisah perjalanan hidup harus dikumpulkan. Dokumen yang dimaksud bisa berupa foto maupun catatan harian (diary).

4. Kembangkan outline.
Kerangka tulisan bisa dikembangkan per bab sedikit demi sedikit. Tulislah saja semuanya sampai ke bagian akhir. Jika dalam proses menulis itu muncul ide baru, maka jangan tergoda yah, pemirsa! Catat saja ide tersebut di buku lain, lalu lanjutkan menulis sampai tuntas. Ingat, jangan pedulikan kesalahan tulisan yang terjadi! Biarkan saja seperti itu.

5. Lakukan editing.
Nah, setelah tulisan kelar semuanya hingga bagian akhir, barulah dilakukan proses editing. Mengedit tulisan bisa dikerjakan sendiri dengan cara membaca ulang naskah. Jika ditemukan kesalahan penulisan atau ada diksi yang tidak tepat, maka dilakukan perbaikan-perbaikan. 

Selain itu, editing juga dapat dilakukan oleh orang lain. Mintalah seseorang yang dikenal untuk membaca dan menilai tulisan kita dari segi mana pun. Jika ada masukan dari pembaca pertama kita, sebaiknya dijadikan bahan pertimbangan untuk memperbaiki mutu karya kita. Jangan lupa berterima kasih yah, pemirsa!

6. Buatkan desain cover buku.
Jika penulis memiliki keterampilan mendesain cover buku, maka lebih baik dilakukan sendiri saja. Akan tetapi apabila kemampuannya tidak memadai, sebaiknya diserahkan ke orang yang lebih ahli. Hampir semua penerbit menyediakan jasa desainer cover buku untuk penulis. Jadi, tunggu apa lagi? Berikut contoh cover buku autobiografi karya pak Suparno.
7. Lengkapi dengan kata pengantar.
Langkah selanjutnya yaitu meminta kesediaan pakar atau tokoh terkenal untuk memberi kata pengantar di buku kita. Dengan adanya sepatah kata dari tokoh tersebut diharapkan agar buku kita dapat menjadi sumber inspirasi dan bermanfaat bagi banyak orang. 

8. Kirim ke penerbit.
Sebuah tulisan tidak akan pernah disebut mencapai target jika tidak dikirim ke penerbit. Kecuali jika penulis tersebut memiliki sebuah perusahaan penerbitan, maka naskah tidak perlu dikirim ke mana pun. Langsung saja diterbitkan dan dipasarkan sesuka hati. 

Naskah dapat dikirim ke penerbit mayor atau ke penerbit indie. Jika keberuntungan menyapa, naskah buku kita bisa diterbitkan oleh penerbit mayor. Inilah impian semua penulis. Saya juga punya mimpi itu, bahwa suatu saat akan ada buku saya yang terbit melalui penerbit mayor. Bukan hanaya dari judul buku, tetapi lebih dari itu. Insyaallah. Mohon doa dan dukungannya yah, pemirsa!

Di sesi tanya-jawab, pak Suparno diberondong banyak pertanyaan dari peserta. Ada 12 peserta yang mengirim chat ke Bu May selaku moderator. Saya salah satu dari mereka. Saking asyiknya mengirim pertanyaan ke pak Suparno, kami tidak sadar bahwa waktu telah melewati jadwal.

Biasanya perkuliahan berlangsung sampai pukul 22.00 WITA, malam ini sungguh berbeda. Waktu telah menunjukkan jam pukul 22.53 WITA, ruang chat WAG baru dibuka oleh moderator. Nah, saat itulah ruang chat semakin ramai. Beberapa link blog hasil resume peserta mulai berentetan. Saya juga ingin berpacu dengan rekan-rekan di gelombang 18, tetapi kondisiku belum sembuh total. 

Sungguh pertemuan yang mengesankan. Selain karena pemaparan pak Suparno yang langsung mengena di hati, juga didukung oleh penampilan kedua ketua kelas kami sangat memukau. Saya bangga menjadi rekan beliau di gelombang 18 ini. Terima kasih atas penjelasan dan motivasi yang telah Bapak bagikan kepada kami. Terima kasih, pak Suparno! Terima kasih, Bu May!







Waktu kegiatan: Senin, 14 Juni 2021
Resume ke: 26
Tema: Menis Buku Autobiografi
Narasumber: Suparno, S. Pd., M. Pd.
Gelombang: 18



Jumat, 11 Juni 2021

TEKNIK MENULIS KARYA NON FIKSI

Beberapa hari ini saya harus istirahat total. Sudah banyak pekerjaan yang tertunda dan tugas yang menunggu. Namun, saya harus tetap patuh pada anjuran dokter agar bisa segera membaik. Semoga saya bisa mengejar ketertinggalan di gelombang 18 ini. Doakan saya yah, pemirsa!

Malam ini perkuliahan sudah mencapai pertemuan ke-25. Sayangnya, saya belum menyelesaikan tugas untuk pertemuan sebelumnya. Tapi biarlah, insya Allah besok saya berusaha menuntaskannya. Aamiin...
Bu Kanjeng kini menjadi pemandu acara dan narasumbernya bernama pak Much. Khoiri, seorang tokoh legendaris di dunia literasi. 

Pak Emcho (sebutan akrab bagi narasumber) saya sebut legendaris karena berdasarkan CV yang dibagikan kuketahui bahwa beliau telah merambah dunia tulis-menulis sejak tahun 1986. Senior banget, pemirsa! Pastinya beliau telah melewati banyak episode kehidupan di dunia kepenulisan.

Pria kelahiran tahun 1965 ini adalah seorang dosen di FBS Universitas Negeri Surabaya sekaligus seorang penulis, blogger, trainer, editor, dan penggiat literasi Indonesia. Saat masa-masa kuliah semester 2 di IKIP Surabaya, tepatnya di tahun 1986, beliau telah rutin menulis artikel. Minimal 20 karya tulis berbentuk non fiksi menjadi sebuah kewajiban yang yang harus beliau penuhi dalam waktu satu bulan. 

Kebiasaan menulis selama 35 tahun itu telah melahirkan 66 karya buku tentang budaya, sastra, dan menulis kreatif. Ada yang diterbitkan secara beramai-ramai, banyak juga yang merupakan karya buku solo. Buku terbaru pak Emcho berjudul Kitab Kehidupan, lahir di bulan Mei 2021. Wow, pak Emcho kereeen banget yah, pemirsa!!! 
Selain menulis, pak Emcho juga merupakan founder Blantik Literasi. Sebuah kanal YouTube yang beliau rintis untuk mendampingi, membina dan membimbing publik dalam berliterasi setiap hari. Biodata lengkap tentang pak Emcho dapat dibaca di link https://muchkhoiri.com/2021/01/tentang-penulis/

Dalam hal menulis karya non fiksi, pak Emcho membagikan sebuah link, yakni https://youtu.be/1-HO0z-oUuI Video tersebut berisi penjelasan rinci terkait cara mengembangkan tulisan yang berbentuk non fiksi. 

Di awal pemaparan materi, pak Emcho mengapresiasi para penulis yang telah membuat artikel meskipun masih sangat sederhana. Yang terpenting menurut beliau adalah kemauan seseorang dalam menulis dan kemampuan untuk menyelesaikan tulisannya. Ini merupakan modal utama dalam menulis. 

Nah, bagaimana mengembangkan sebuah artikel sederhana menjadi karya tulis non-fiksi yang apik? Berikut ulasannya.
1. Defenisi
Setelah menulis paragraf pembuka, seorang penulis perlu memberikan defenisi dari tema sentral tulisan. Defenisi boleh mengacu pada pendapat beberapa orang tentang tema lalu penulis menarik benang merahnya. Dengan demikian, pembaca akan diarahkan pada fokus yang sama dengan penulis mengenai tema.

2. Penjelasan
Penjelasan tentang tema sangat dibutuhkan dalam menulis artikel. Jika selama ini pembaca belum tahu betul tentang tema yang dibahas, maka dengan adanya penjelasan akan memberikan secercah titik terang bagi pembacanya. Apabila terdapat beberapa sub tema dalam artikel, maka penulis harus menjelaskan semua sub tema tersebut secara terperinci.

3. Contoh
Dalam paragraf tertentu, penulis dapat memberi contoh tentang tema maupun sub tema yang telah dijelaskan. Terkadang pembaca menjadi lebih paham mengenai penjelasan jika tulisan dilengkapi dengan contoh-contoh. Terlebih lagi apabila contoh yang diambil sangat dekat dengan kehidupan pembacanya.

4. Kasus
Dalam memberikan contoh, penulis bisa mengacu pada kasus yang pernah terjadi. Tentu yang ada kaitannya dengan tema. Kasus yang diangkat sifatnya bisa secara kolektif, boleh juga diambil kasus yang terjadi di daerah-daerah, maupun dari luar negeri. Selain untuk memperkuat contoh yang diberikan sebelumnya, ini juga akan menambah wawasan pembaca.

5. Kutipan
Tulisan berbentuk non fiksi biasanya identik dengan kalimat kutipan. Kutipan bisa diambil dari buku, ungkapan para ahli di bidang tertentu (disesuaikan dengan tema), tokoh-tokoh nasional maupun tokoh dunia. Akan tetapi penulis perlu memahami aturan dalam mengutip. Tidak bisa asal mengutip yah, pemirsa! Ada tata Krama yang harus dikuasai agar penulis bisa terhindar dari plagiarisme.

6. Anekdot
Sebuah artikel terkadang dibubuhi cerita atau kisah seseorang yang sangat berkesan dan lucu. Anekdot itu biasanya merupakan cerita yang pernah terjadi sebelumnya dan dilakoni oleh orang-orang terkenal.

7. Humor
Hal lain yang bisa disisipkan dalam sebuah artikel adalah kalimat berisi humor. Hal ini tergantung pada penulisnya yah, pemirsa. Jika penulisnya suka humor, biasanya akan muncul rasa humor tersebut dalam tulisannya. 

8. Ungkapan filosofis
Ungkapan filosofis juga merupakan bagian yang sangat menarik ditulis dalam sebuah artikel. Ungkapan tersebut berupa kalimat-kalimat yang menggugah hati dari filsuf-filsuf terdahulu, seorang ulama atau agamawan, maupun dari seorang budayawan yang relevan dengan tema. Pada umumnya ungkapan seperti ini dapat membuat sebuah tulisan menjadi lebih berkesan di hati pembacanya.

9. Peribahasa
Selain itu, penulis artikel juga bisa membubuhi peribahasa dalam karyanya. Peribahasa sudah teruji secara alamiah dan telah digunakan selama bertahun-tahun lamanya. Peribahasa di suatu daerah terkadang ada yang sama maknanya dengan daerah lain, tetapi diksinya yang berbeda. Maka seorang penulis harus memahami perbedaan tersebut jika ingin menuliskannya dalam sebuah artikel.

Menurut pak Emcho, bukan hanya kesembilan hal tersebut yang bisa dituliskan dalam mengembangkan karya non fiksi. Ada banyak lagi hal lainnya. Saya sangat sepakat dengan beliau. Saya teringat bahwa ada beberapa artikel yang pernah saya baca dilengkapi dengan puisi, pantun, dan bahkan kalimat dari sebuah kitab suci pemeluk agama tertentu. 

Nah, jika merujuk pada penjelasan pak Emcho, sebuah artikel sederhana pasti akan berubah menjadi lebih kompleks dan menarik. Namun perlu diingat bahwa rentetan penjelasan beliau tidak mesti ada semua dalam satu artikel. Disesuaikan saja dengan kebutuhan yah, pemirsa. 

Jika dianggap bahwa satu tema bisa diselesaikan hanya dengan defenisi, penjelasan, kutipan, dan contoh saja, maka tidak usah ditambah dengan variasi lain. Cukup segitu saja. Namun apabila penulis merasa bahwa pembaca akan terbantu dengan adanya kasus, maka boleh dilengkapi dengan kasus-kasus yang pernah terjadi. Apabila peribahasa atau humor tidak diperlukan, maka tidak usah dipaksakan. Nanti malah akan membuat artikelnya tidak dipahami pembaca dan pesannya tidak tersampaikan.

Di akhir penjelasan, pak Emcho menyatakan bahwa setiap penulis akan menemukan ciri khasnya jika memiliki pengalaman. Pengalaman seorang penulis tentu tidak akan sama dengan penulis lainnya sehingga gaya tulisannya pasti akan berbeda. Dengan terus berlatih menulis setiap hari, bagian-bagian penting yang harus ada dalam sebuah artikel akan dihapal dengan sendirinya. 

Semakin sering berlatih, penulis akan semakin ingat pada struktur pelengkap tulisannya. Jadi, berlatihlah setiap hari! Menulislah setiap hari! Dalam kondisi apapun dan dalam suasana hati yang bagaimanapun. Keep writing!






Waktu kegiatan: Jum'at, 11 Juni 2021
Resume ke: 25
Tema: Cara Mengembangkan Tulisan Non Fiksi
Narasumber: Moch. Khoiri
Gelombang: 18





Senin, 07 Juni 2021

BELAJAR MERANCANG COVER BUKU

Sudah tiga hari ini saya tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Sampai-sampai, ada beberapa pertemuan virtual penting yang terpaksa saya lewatkan. Saya sakit, pemirsa. Mohon doakan semoga saya bisa segera pulih kembali.

Setelah memeriksakan diri ke dokter, saya disarankan untuk beristirahat total. Tanpa aktivitas berat, tanpa gadget, tanpa komputer, dan tak boleh banyak berpikir. Untuk satu dua hari masih bisa saya jalani. Tetapi malam ini saya tak sanggup lagi. Saya tidak bisa menahan diri untuk melewati kegiatan di WAG. 
Secara sembunyi-sembunyi, saya mengikuti perkuliahan tentang membuat desain cover buku yang dipandu oleh Bu Aam. Adapun narasumbernya yaitu pak Achmad Najiullah Thaib. Beliau akrab disapa dengan sebutan pak Ajinata.

Narasumber kelahiran Jambi ini merupakan desainer dari ratusan cover buku yang telah diterbitkan. Menurutnya, keahlian ini diperoleh secara otodidak sejak beliau berprofesi sebagai desainer grafis pada tahun 1987. Di tahun 1990, beliau mendirikan sebuah perusahaan advertising lalu terjun ke dunia film sebagai art director (1992-2018). Lebih lengkapnya dapat dibaca pada link https://terbitkanbukugratis.id/ajinatha/03/2021/belajar-komputer-grafis-secara-otodidak/

Learning by doing. Itulah prinsip yang selama ini dipegang oleh pak Ajinata dalam berkarya. Seiring berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, kemampuan beliau sebagai desainer grafis juga semakin meningkat. Saat ini beliau memanfaatkan aplikasi Canva dalam membuat desain cover buku.

Oya, Bu Aam memberitahukan kepada seluruh peserta bahwa cover buku antologi gelombang 18 yang tidak lama akan terbit juga merupakan hasil anggitan pak Ajinata loh! Berikut gambar desainnya covernya.
Lalu, Bu Kanjeng juga menambahkan bahwa sudah banyak sekali buku hasil editing beliau yang didesain cover oleh pak Ajinata. Wah, narasumber kita malam ini keren banget yah, pemirsa!

Sebenarnya pak Ajinata ingin sekali berbagi pengetahuan tentang penggunaan aplikasi Canva kepada seluruh peserta, sayangnya hal tersebut tidak mudah dilakukan hanya melalui chat. Butuh penjelasan panjang dan beresiko terjadi lompatan tahap-tahap pengerjaannya jika tetap dilanjutkan. Model yang paling tepat itu praktik langsung yah, pemirsa. Beliau bersedia divideokan sambil mengaplikasikan Canva dalam menghasilkan karya desain cover.

Dalam membuat desain cover buku, pak Ajinata menyampaikan bahwa hal mendasar yang dibutuhkan adalah rasa (taste). Selain itu, perancang cover juga harus memiliki kemampuan dalam bidang IT terutama computer grafis. Kedua hal ini merupakan modal utama dalam mendesain cover buku. 

Ada beberapa hal penting yang menjadi pendukung lahirnya sebuah karya desain cover buku, yaitu:
1. Aspek pewarnaan.
Pemilihan ilustrasi dan komposisi warna sangat menentukan bagus tidaknya sebuah cover buku. Berdasarkan pengalaman pak Ajinata diketahui bahwa seorang desainer cover buku akan lebih leluasa merancang karyanya jika tidak didikte oleh orang lain.

2. Kreativitas perancang.
Semakin sering merancang cover buku, maka kreativitas desainernya akan semakin terasah. Seorang perancang cover harus berjiwa seni tinggi dan selalu berpikir kreatif.

3. Pemahaman tentang filosofi judul buku.
Sebelum merancang cover, seorang desainer harus mampu memahami filosofi dari buku tersebut. Dengan demikian, ruh dari buku yang akan dibuatkan desain covernya akan muncul dengan sendirinya. Jangan sampai beda tema dengan cover bukunya yah, pemirsa!

4. Rasa dan intuisi desainer perlu dipertajam. Dalam memahami tema buku, seorang desainer cover tidak perlu membaca buku tersebut secara keseluruhan dari A sampai Z. Hanya dengan membaca sinopsis, dilengkapi dengan rasa dan intuisi yang tajam, seorang desainer cover sudah mampu membuat ilustrasinya.

5. Ada kemauan dan tidak mudah menyerah.
Menurut pak Ajinata, siapa saja bisa menjadi desainer cover. Asalkan dia memiliki citra rasa seni dan kreativitas. Selain itu, dia juga harus mau mengasah serta mengolah taste dan intuisinya agar karya desain yang dihasilkan menjadi indah. 

Sebelum mengakhiri perkuliahan, pak Ajinata berpesan bahwa tidak ada ilmu yang tidak bisa dipelajari. Termasuk ilmu di bidang IT. Yang terpenting adalah temukan keasyikan dalam mengerjakan sesuatu, maka kreativitas akan muncul dengan sendirinya. Terima kasih atas ilmu dan sharing pengalamannya yah, pak Ajinata! Kami tunggu tutorialnya di YouTube.




Waktu kegiatan: Senin, 07 Juni 2021
Resume ke: 23
Tema: Membuat Desain Cover Buku
Narasumber: Achmad Najiullah Thaib
Gelombang: 18

Jumat, 04 Juni 2021

MEMBANGUN PERSONAL BRANDING

Malam ini saya bergabung di WAG belajar menulis bersama PGRI sejak pukul 21.20 WITA. Perkuliahan telah berlangsung selama kurang lebih satu jam lamanya. Maklumlah, pemirsa. Namanya juga ibu rumah tangga, jam kerjanya bisa sampai 18 jam lamanya. Beruntung seluruh chat dan materi yang disampaikan masih hangat sehingga saya bisa langsung mengikuti materi dari awal sampai ke sesi latihan. Alhamdulillaah!

Materi malam ini tentang membangun personal branding melalui blog dan media sosial. Bu Kanjeng yang bertugas sebagai moderator sedangkan narasumbernya bernama Namin AB Ibnu Solihin, sang founder motivator pendidikan.com
Pak Namin merupakan salah satu blogger ternama di Indonesia. Untuk mengetahui lebih detail tentang beliau, silakan kunjungi link berikut:

Pria yang memiliki empat orang anak ini mulai menulis di blog sejak tahun 2007. Awalnya beliau menjadi blogger hanya mengisi waktu luang saja. Menurut beliau, isi blognya yang pertama pun masih bercampur aduk temanya, lebih banyak berisi curhat saja.

Tujuh tahun kemudian, pak Namin telah memiliki branding di dunia blogger. Tentunya ini semua tidak terjadi secara instan dan otomatis. Pak Namin telah melalui fase-fase percobaan dan latihan yang terus menerus sehingga terbangun branding yang beliau inginkan.

Jika ingin mengetahui lebih dalam tentang pak Namin, pembaca hanya perlu mengetahui kata kunci yang menjadi ciri khas beliau di blog maupun sosmed. Pak Namin sangat identik dengan motivator pendidikan. Nah, pada tahun 2015 beliau berhasil melaunching sebuah website yakni www.motivatorpendidikan.com yang berisi seluruh konten tentang motivasi di bidang pendidikan. Wow, pak Namin keren banget yah, pemirsa!

Materi yang dipaparkan malam ini sangat menarik. Di sela perkuliahan, pak Namin memberikan latihan bagi peserta untuk memulai membangun brand di dunia blog dan sosmed. Beberapa peserta mengerjakan latihan tersebut dan rata-rata sudah memenuhi kriteria yang dijelaskan oleh narasumber.

Menurut pak Namin, istilah brand dengan branding merupakan dua hal yang kelihatannya sama tapi sebenarnya berbeda. 
a. Brand adalah merek yang dihasilkan melalui branding.
b. Branding merupakan proses atau strategi yang dilakukan oleh seorang penulis untuk membangun hubungan dengan pembacanya, di blog maupun di media sosial lainnya.

Pak Namin kemudian menjelaskan tentang strategi yang dilakukan untuk membangun personal branding. Ada 7 langkah yang harus ditempuh untuk membangun personal branding yaitu:
1. Buatlah nama blog dan akun medsos yang mudah dibaca dan gampang diingat.
2. Isi konten blog maupun medsos dengan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan nama blog dan akun medsos tersebut.
3. Buat poster dan video tentang nama blog/akun medsos yang telah diperkenalkan sebelumnya.
4. Buat kaos dengan tema atau nama blog dan akun medsos.
5. Adakah pelatihan gratis dalam rangka memperkenalkan brand atau merek yang ingin dipromosikan (nama blog dan akun medsos).
6. Adakan lomba menulis dengan tema yang sesuai dengan nama blog dan akun medsos kita.
7. Bagikan secara gratis ribuan video tentang nama blog kepada seluruh follower maupun peserta pelatihan.

Selanjutnya pak Namin juga menyampaikan bahwa ada 6 unsur yang harus ada dalam branding, yakni:
1. Nama brand atau merek.
2. Logo (tosan maupun gambar).
3. Tampilan visual blog dan medsos (sebaiknya simpel, informatif, dan friendly).
4. Juru bicara (tokoh atau pembicara yang diperkenalkan dalam branding).
5. Suara (ciri khas yang dimiliki oleh tokoh dalam berbicara di depan publik).
6. Slogan/Tagline/Akronim.

Nah, keenam unsur inilah yang menjadi tugas latihan bagi peserta di WAG malam ini. Sayangnya, saya belum sempat mengirim tugas ke Bu Kanjeng, pemirsa. Saya sungguh menyesal terlambat menghadiri perkuliahan malam ini. 

Meskipun demikian, saya tetap bersyukur kepada Allah subhaanahu wa ta'ala karena memberi saya kesempatan untuk mendapatkan ilmu dari narasumber hebat malam ini. Saya juga sangat berterima kasih kepada pak Namin atas segala hal yang telah beliau bagikan kepada kami. Terima kasih, pak!

Tak lupa saya juga haturkan terima kasih kepada Bu Kanjeng selaku pemandu kegiatan dan Omjay sebagai founder kelas belajar menulis bersama PGRI. Termasuk Bapak/Ibu seluruh tim relawan yang membantu kami selaku peserta di kelas belajar menulis ini. Semoga Allah subhaanahu wa ta'ala memberikan kesehatan dan keberkahan dalam hidup kita semua. Aamiin...



Waktu kegiatan: Jum'at, 04 Juni 2021
Resume ke: 22
Tema: Personal Branding Blog
Narasumber: Namin AB Ibnu Solihin
Gelombang: 18




Rabu, 02 Juni 2021

PENTINGNYA MEMILIKI KETERAMPILAN DIGITAL

Sejak pulang dari sekolah sore tadi, badan rasanya kurang fit. Seluruh persendianku terasa pegal dan kepalaku agak berat. Setiba di rumah, saya tidak langsung merebahkan badan. Saya mencoba tetap beraktivitas seperti biasa. Namun, baru saja selesai menyapu lantai di ruang tamu, saya merasa begitu capek. Saya duduk sejenak dan saya tidak kuat lagi menahan diri untuk tidak merebahkan badan. Saya demam, pemirsa.

Pada pukul 20.00 saya membaca chat dari Bu Rita di WAG bahwa malam ini ada perubahan tema. Pentingnya Digital Skill adalah tema yang sedang dibahas di WAG saat ini. Narasumbernya adalah Omjay, sang founder kelas belajar menulis bersama PGRI. Sedangkan yang bertugas sebagai moderator yaitu Bu Rita Wati.

Dari flyer yang beredar sebelumnya tercantum bahwa pada pertemuan ke-21 ini, pak Agus Sampurno yang akan menjadi narasumber. Materi yang akan dipaparkan adalah langkah kreatif dalam menulis. Namun sampai pukul 19.00 WIB, pak Agus tidak bisa dihubungi sehingga Omjay berinisiatif untuk menggantikan beliau. Tentunya ini dilakukan agar tidak terjadi kekosongan materi di WAG. Terima kasih, Omjay!

Seperti biasa, sebelum mempersilakan narasumber, Bu Rita membuka kegiatan secara resmi dan menyampaikan aturan selama perkuliahan. Beliau tidak lagi membagikan tentang profil narasumber sebab semua orang sudah kenal dengan Omjay. Beliau memang sudah populer, pemirsa.

Setelah Omjay memberi salam dan menyapa peserta, beliau langsung saja membagikan link materi yang akan disampaikan yakni https://wijayalabs.blogspot.com/2021/06/pentingnya-digital-skill.html. Menurut Omjay, materi ini sebenarnya akan dipaparkan pada sebuah kegiatan di Kediri, Jawa Timur. Meskipun demikian beliau bagikan ke WAG agar dapat menjadi modal menulis resume bagi peserta.
Saya sangat tertarik dengan materi malam ini. Alasannya sederhana sekali. Saya merupakan salah satu guru yang sangat awam dalam dunia digital. Saya begitu antusias jika ada orang yang berbicara tentang pentingnya menguasai keterampilan digital. 

Bagi saya, era digital adalah suatu masa yang penuh dengan kejutan dan dunia yang akrab dengan teknologi informasi dan komunikasi. Dunia digital adalah sebuah situasi dan kondisi yang menawarkan berbagai kemudahan dalam menjalani hidup. Tak heran jika generasi saat ini yang dikenal dengan sebutan generasi milenial terkesan hidup santai-santai saja sebab mereka sudah akrab dengan era digitalisasi.

Ada banyak istilah dalam slide yang kurang saya pahami. Maklumlah, saya belum tahu betul apa yang dibahas. Meskipun demikian, saya tetap bersemangat mengikuti materi yang 'cukup berat' bagi saya. Saya tetap mencoba mencerna setiap kalimat yang ada di sana. Setidaknya, saya berusaha mengenal istilah-istilah tersebut sedikit demi sedikit.
Menurut Omjay, ada 5 digital skill atau keterampilan digital yang harus dimiliki saat ini. 
1. Medsos
Saat ini medsos bukan lagi hal yang baru bagi sebagian besar orang. Akan tetapi masih banyak orang yang belum bisa memanfaatkan medsos dalam menjalankan tugasnya atau profesinya. Sebagai pendidik dan pembelajar, seorang guru sebaiknya memiliki keterampilan bermedsos yang dapat membantu dalam mencerdaskan peserta didiknya. Dengan demikian penggunaan medsos akan sangat bermanfaat dan akan lebih memudahkan guru dalam proses pembelajaran.

2. SEM (Search Engine Marketing)
Bagian ini lebih fokus pada teknik pemasaran digital. Era digital menawarkan kemudahan dalam melakukan promosi produk dan transaksi antara produsen dan konsumen. Dengan keterampilan SEM ini, ruang lingkup pemasaran menjadi lebih luas dan tentu saja memudahkan serta memberikan keuntungan yang lebih besar lagi bagi penggunanya.

3. Analytics
Kemampuan menganalisa informasi merupakan hal yang sangat penting dimiliki oleh setiap individu saat ini. Pesatnya informasi dengan berbagai macam bentuknya begitu mudah didapatkan dan diakses melalui media apapun. Jika semua informasi yang ada diterima begitu saja tanpa adanya proses analisa terlebih dahulu, maka tentunya akan berdampak negatif bagi kehidupan manusia. Maka sangat dianjurkan agar mengutamakan analisis dan filterisasi informasi sebelum membagikannya kembali ke orang lain. Saring dulu baru sharing yah, pemirsa!

Dalam hal dunia bisnis, analisis data dari internet sangat diperlukan untuk menentukan strategi pemasaran yang lebih efektif dan efisien. Ini juga dapat dimanfaatkan dalam promosi dan penjualan buku maupun produk lainnya. 

4. Content
Jika membahas mengenai konten biasanya kita diarahkan pada postingan blog, video, podcast, ataupun status yang diunggah di media sosial. Postingan tersebut sangat mempengaruhi proses menetapkan personal branding. Semakin terampil seseorang membuat postingan akan semakin memperkuat jati dirinya dan berimbas pada karakternya di dunia maya. 
Content yang saya rintis saat ini adalah menulis di blog. Saya berharap dengan seringnya membuat tulisan di blog akan menjadi jalan untuk berbagi kebaikan kepada orang lain. Seperti halnya Omjay yang saat ini sudah dikenal sebagai guru blogger ternama di Indonesia. Beliau sudah popular dengan jargon "menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi". Inilah yang merupakan personal branding Omjay.

5. Coding
Nah, bagian ini merupakan hal yang terberat bagi generasi jaman dahulu alias jadul. Sampai saat ini saya belum paham betul tentang coding. Meskipun banyak webinar maupun workshop yang membahas tentang coding, saya masih terus mengeja dan meraba-raba tentangnya. Saya juga lupa menanyakan hal ini ke Omjay di sesi tanya-jawab. So, let's learn it together!

Di akhir pertemuan Omjay berpesan kepada seluruh peserta agar semuanya tetap belajar sepanjang hayat. Menurut beliau, tidak ada yang susah jika ingin belajar pada ahlinya. Termasuk untuk memiliki digital skill. Semuanya hanya membutuhkan latihan. Mulai dari membuat e-mail, menulis di blog, sampai pada membuat channel YouTube. Jika dilatih setiap hari maka sedikit demi sedikit keterampilan digital tersebut bisa dikuasai. Mohon doakan kami yah, pemirsa!







Waktu kegiatan: Rabu, 02 Juni 2021
Resume ke: 21
Tema: Pentingnya Digital Skill
Narasumber: Wijaya Kusumah, M. Pd.
Gelombang: 18



Senin, 31 Mei 2021

MENJAGA SEMANGAT MENULIS SETIAP HARI

Malam ini saya bersama tiga orang teman sedang dalam perjalanan pulang ke kota Bantaeng. Tadi pagi-pagi sekali kami berangkat ke kota Makassar, ibukota propinsi Sulawesi Selatan. Ada urusan penting yang harus kami selesaikan di sana.

Jarak antara kota Bantaeng dengan kota Makassar sekira 125 kilometer. Jika menggunakan kendaraan roda empat, kami memerlukan waktu 3 sampai 4 jam perjalanan. Ada 3 kabupaten yang mesti kami lalui untuk tiba di Makassar, yakni kabupaten Jeneponto, Takalar, dan Gowa. Begitu pun sebaliknya. 

Kami masih ada di kabupaten Takalar ketika waktu sholat Magrib tiba. Saat itu juga saya melihat flyer kegiatan malam ini dibagikan di WA grup. Saya berdoa semoga saja bisa sampai di rumah sebelum perkuliahan selesai.
Alhamdulillah saya tiba di Bantaeng pada jam 21.20 WITA. Artinya, saya masih punya waktu kurang lebih setengah jam mengikuti kegiatan. Ketika saya membuka WAG kelas belajar menulis bersama PGRI, saya mendapati puluhan notifikasi. Saya pun mulai beraksi dengan kedua jempol di tuts HP.

Malam ini kelas dipandu oleh Bu Kanjeng. Narasumber yang berbagi motivasi, ilmu, dan pengalaman yaitu pak Dedi Dwitagama. Beliau adalah guru blogger yang menjadi sumber inspirasinya Omjay loh, pemirsa. Tema kegiatan malam ini yakni komitmen menulis di blog.

Sejak tahun 2005 sampai sekarang, pak Dedi telah bertugas dinas sebagai guru di beberapa sekolah. Beliau juga pernah menjabat sebagai kepala sekolah. Selain itu, beliau merupakan seorang trainer, motivator, dan narasumber di berbagai bidang kegiatan. Diantaranya di bidang pendidikan, pencegahan penyalahgunaan narkoba, teknologi informasi, tulis menulis, dan lain-lain.

Kepada peserta, pak Dedi membagikan beberapa link tentang data diri beliau. Ada link blog, Instagram, podcast, dan YouTube.
1. https://trainerkita.wordpress.com/about/

2. https://www.instagram.com/dwitagama/

3. https://open.spotify.com/show/682AwWJf6kp1X8GfdJumED

4. https://www.youtube.com/user/dwitagama

Menurut pak Dedi, beliau pertama kali menulis di blog pada bulan September 2005. Beliau terinspirasi oleh adik bungsunya bernama pak Agus Sampurno (pemilik akun https://gurukreatif.wordpress.com/). Katanya, saat itu di Amerika sedang booming penggunaan blog. Maka beliau pun tertarik dan mulai menulis di link http://dwitagama.blogspot.com

Ketika wordpress muncul di tahun 2007, pak Dedi aktif menulis di https://dedidwitagama.wordpress.com/.  Lalu pada tahun 2008, beliau juga menulis di https://www.kompasiana.com/dwitagama. Selain itu, belaiu punya belasan blog yang masih dikelola sampai saat ini. Wow, pak Dedi hebat yah, pemirsa! Beliau memiliki banyak blog tempat mengumpulkan ide-idenya.

Menurut pak Dedi, kiat sukses menulis di blog itu bermacam-macam. Tergantung pada target penulis atau pemilik blog. Pada umumnya para blogger akan merasa puas dan semakin tertarik untuk menulis jika jumlah viewernya banyak. Maka, kunci utama untuk menjadi seorang blogger yang sukses adalah menulis setiap hari atau setiap pekan, atau setiap bulan satu tulisan. 

Apabila penulis memiliki banyak ide, maka boleh mempublikasikan beberapa tulisan di blog. Tujuannya agar menjadi tabungan tulisan jika sewaktu-waktu ada suatu masa penulis sedang sibuk, maka tabungan tersebut dapat memenuhi target yang telah dicanangkan.

Seorang penulis boleh-boleh saja memiliki banyak link blog. Yang terpenting adalah tersedianya tempat untuk menyalurkan hasrat ingin berbagi manfaat kepada orang lain. Pak Dedi lalu menyatakan bahwa beliau mempunyai belasan blog yang isinya difokuskan membahas tentang topik tertentu. Dengan adanya klasifikasi topik blog tersebut akan memudahkan penulis itu sendiri jika ingin menerbitkan buku. 

Ketika pak Dedi ditanya tentang jenis tulisan apa yang paling diminati pengunjung, beliau memberi masukan kepada peserta. Menurutnya, menulis tidak perlu menunggu didikte oleh pembaca. Akan tetapi sebaliknya. Penulis diberi kebebasan untuk menulis dan mempublish tentang apa saja, jenis tulisan apapun, dan dengan tema apa saja. Bebas. 

Nah, dari situlah baru dapat diidentifikasi jumlah pengunjungnya. Kalau banyak yang membaca dan mengomentari tulisan ini maka berarti jenis tulisan tersebut banyak peminatnya. Teruslah menulis tanpa beban, pemirsa!

Pak Dedi juga memanfaatkan blog sebagai pendukung pelaksanaan tugas beliau sebagai seorang tenaga pendidik. Dengan sedikit trik, maka peserta didik akan belajar menggunakan blog agar tidak ketinggalan pelajarannya. Dala blog tersebut, penulis boleh menyisipkan gambar-gambar maupun video.

Selain itu, pak Dedi juga membagikan 3 tips agar komitmen menulis tetap terjaga.
1. Tulis apa saja yang mau ditulis. Tidak usah memikirkan mutu tulisan yang akan dipublish.
2. Langsung saja publikasikan tulisan yang sudah kelar. Tidak perlu diedit, tetapi segera perbaiki jika perlu ada perbaikannya.
3. Segera balas komentar yang bagus-bagus. Tidak perlu repot-repot meladeni komentar miring tentang tulisan tersebut. Kalau perlu, komentar yang tidak berkenan di hati langsung dihilangkan saja (dihapus).

Dalam mengelola blog dan menulis, pak Dedi memperkenalkan program bernama ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Program ATM ini juga bisa diaplikasikan pada bidang apa saja yang akan dipelajari. Di dunia blogger, seorang penulis mesti rajin melakukan BW atau blog walking. Selain sebagai ajang silaturahmi ke sesam blogger, BW juga bisa menjadi inspirasi tentang blog yang bagus.

Sebagai closing statement, pak Dedi berpesan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang dapat memberi manfaat ke sesama manusia. Dengan menulis di blog, manusia dapat meninggalkan jejak kebaikan selama di bumi dan akan mengantarkan penulisnya menuju surga. Saya berharap agar dapat menjadi salah satu guru blogger yang bermanfaat bagi orang lain. Aamiin...






Waktu kegiatan: Senin, 31 Mei 2021
Resume ke: 20
Tema: Komitmen Menulis di Blog
Narasumber: Dedi Dwitagama
Gelombang: 18











Jumat, 28 Mei 2021

NILAI ANGKA KREDIT BUKU UNTUK BAGI PNS

Malam ini saya dan saudara-saudara sedang berkumpul di rumah kakak tertua. Kami kembali berkumpul untuk mempersiapkan banyak hal untuk acara pertunangan anak kedua kakak kami. Calon besannya bertempat tinggal di kabupaten Wajo.

Sesekali saya melirik ke arah jam dinding yang ada di ruang tengah. Jarum jam menunjukkan angka 10. Wadduh, saya sudah terlambat, pemirsa! Buru-buru saya mengambil gawai yang dari tadi tersimpan dalam tas. Segera saya buka WAG kelas belajar menulis bersama PGRI. Ternyata sudah banyak VN yang dibagikan oleh narasumber. Oh, no! Saya ketinggalan kereta, pemirsa!

Malam ini perkuliahan sudah mencapai pertemuan kesembilan belas. Kegiatan dipandu oleh pak Cip dan narasumbernya bernama pak Dr. H. Imron Rosidi, M. Pd. Materi yang akan dibahas mengenai poin buku pada kenaikan pangkat PNS.

Menurut penjelasan pak Imron, ada beberapa jenis buku yang dapat dinilai untuk kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil (PNS). Masing-masing jenis buku tersebut memiliki poin tertentu yang biasa disebut dengan istilah Angka Kredit (AK). Dalam hal perhitungan angka kredit PNS mengacu pada pedoman yang tercantum dalam buku 4 dan 5.

Kedudukan buku dapat ditempatkan pada dua kategori dalam perhitungan angka kredit PNS. Buku memiliki poin di 2 bagian dalam Daftar Usulan Penilaian Angka Kredit, disingkat DUPAK.
1. Publikasi Ilmiah
Pada bagian publikasi ilmiah, seorang guru dapat mengajukan buku karyanya sendiri untuk dinilai dalam DUPAK. Ada empat jenis buku yang dapat dikirim ke tim penilai atau assessor AK. Buku-buku tersebut antara lain:
a. Buku hasil penelitian yaitu buku yang merupakan hasil gubahan dari sebuah karya tulis ilmiah (penelitian).
b. Buku pelajaran adalah buku yang digunakan oleh siswa dalam mendukung proses pembelajaran. Buku tersebut boleh saja untuk semua jenjang pendidikan (PAUD sampai ke tingkat menengah atas).
c. Buku pengayaan merupakan buku yang berbentuk buku modul atau diktat, buku bertema pendidikan, maupun buku karya terjemahan.
d. Buku pedoman guru yakni buku yang menjadi pegangan, panduan, rujukan, dan acuan guru dalam melaksanakan tugasnya di dunia pendidikan.

Keempat jenis buku untuk kategori publikasi ilmiah seharusnya sudah ber-ISBN. Jumlah penulisnya maksimal 4 orang saja agar bisa memperoleh nilai angka kredit. Jika lebih dari 4 orang, maka buku tersebut tidak ada AKnya. Jadi, sebaiknya, satu buku ditulis oleh satu orang saja agar nilai yang diperoleh lebih maksimal.

2. Karya Inovatif
Buku yang termasuk dalam karya inovatif terbagi dalam dua kategori besar, yakni kategori sederhana dan kategori kompleks. Ada 3 jenis buku yang dapat dinilai sebagai karya inovatif, yaitu:
a. Buku kumpulan puisi
Untuk kategori kompleks dalam menilai buku kumpulan puisi, maka jumlah puisinya harus lebih dari 40 puisi. Untuk kategori sederhana, jumlah puisinya hanya 20 puisi atau lebih.

b. Buku kumpulan cerpen
Buku kumpulan cerpen akan dinilai dalam kategori kompleks jika terdiri dari lebih dari 10 cerpen. Sedangkan kategori sederhananya, cerpen dalam buku tersebut hanya berjumlah 5 cerpen atau lebih.

c. Buku novel
Penilaian dalam buku novel termasuk kategori kompleks jika telah diterbitkan sebanyak 2 karya novel. Untuk kategori sederhana, guru PNS hanya perlu menulis satu karya novel saja. 

Buku kumpulan puisi maupun kumpulan cerpen boleh saja ditulis oleh lebih dari 1 orang penulis. Tetapi perlu diingat bahwa aturan mengenai jumlah penulisnya juga sama dengan buku pada kategori publikasi ilmiah, yakni maksimal hanya 4 orang penulis saja. Kalau perlu, nama kita sebaiknya berada di posisi nomor satu agar kita terhitung sebagai penulis utama.

Jika ada karya buku yang telah diterbitkan pada saat guru masih berstatus honorer, maka buku tersebut harus digubah atau ditulis ulang (revisi) sehingga bisa dinilai dalam AK. Apabila buku tersebut masih tetap diajukan tanpa revisi, maka tidak ada nilai AKnya karena dianggap sudah kadaluarsa.

Di akhir perkuliahan, pak Imron memberikan motivasi dan penguatan kepada seluruh peserta. Beliau mengatakan bahwa dengan kemampuan menulis dan meneliti, seorang guru PNS bisa saja mencapai pangkat dan golongan IV/d. Yang terpenting adalah adanya karya buku sebagai publikasi ilmiah dan karya inovatif. Beliau berpesan, "naik pangkat lah dengan jujur melalui kegiatan menulis dan meneliti!" Terima kasih atas pencerahan dan sharing informasinya, pak!




Waktu kegiatan: Jum'at, 28 Mei 2021
Resume ke: 19
Tema: Poin Buku Pada Kenaikan Pangkat PNS
Narasumber: Dr. H. Imron Rosidi, M. Pd.
Gelombang: 18

Rabu, 26 Mei 2021

Strategi Penjualan Buku Ala Pak Akbar

Hari ini tanggal merah, pemirsa. Tanggal 26 Mei merupakan hari libur nasional dalam rangka Hari Raya Waisak yang dirayakan oleh seluruh umat Budhha. Seharian ini saya manfaatkan waktu libur dengan kegiatan bersih-bersih rumah bersama suami dan kedua putra hebatku. Alhamdulillaah! Senangnya hati ini!

Malam ini ada fenomena alam langka yang sedang terjadi. Ya, gerhana bulan total. Sebuah fenomena yang hanya terjadi satu kali dalam kurun waktu 195 tahun, loh! Wow, fantastis!

Kami sekeluarga bergegas ke luar rumah dan memandangi bulan yang berubah warna menjadi agak kemerahan di langit Bantaeng. Anak-anak terpana dan berseru gembira melihatnya. Subhanallah, alhamdulillaah, alloohuakbar.

Seketika saya teringat bahwa malam ini ada jadwal perkuliahan di kelas belajar menulis bersama PGRI. Saya bergegas masuk ke rumah dan mengambil gawai. Ternyata, sudah ada flyer kegiatan yang dibagikan oleh Bu Aam di WAG.
Tema kali ini mengenai teknik promosi buku yang akan dipaparkan oleh pak Akbar Zainuddin. Bu Aam yang bertugas memandu perkuliahan malam ini. Beliau lebih awal mengirimkan foto tentang profil narasumber.

Akbar Zainuddin, MM., MJW. adalah nama lengkap narasumber malam ini. Beliau seorang penulis buku best seller berjudul "Man Jadda Wajada". Selain itu, beliau juga adalah seorang trainer, motivator nasional, dan pengusaha. Sungguh sebuah paket komplit si bapak ini yah, pemirsa!

Pria kelahiran Banyumas pada tanggal 07 Februari 1973 ini telah menerbitkan 16 buku sejak tahun 2010. Buku Man Jadda Wajada saat ini sudah mencapai cetakan ketiga belas dan terjual sebanyak 55.000 eksamplar. Wow, kerreeen! 

Jika dilihat dari judul buku-buku yang diterbitkan oleh pak Akbar, dapat dipastikan bahwa beliau adalah seorang santri alias alumnus pondok pesantren. Dan, betul! Beliau pernah nyantri di pondok pesantren modern Gontor. 

Sebagai pembuka, pak Akbar memperkenalkan mengenai buku terbarunya yang berjudul "The Power of Man Jadda Wajada". Menurutnya, buku ini merupakan penyempurnaan dari buku Man Jadda Wajada. 

Selain itu, pak Akbar juga telah menerbitkan buku panduan lengkap tentang dunia tulis menulis. Judulnya "UKTUB: Panduan Menulis Buku dalam 180 hari." Beliau merekomendasikan buku ini ke seluruh peserta sebab ada 150 alamat penerbit anggota IKAPI yang ada di dalamnya. Saya mesti memiliki buku ini, pemirsa. 
Berikutnya, pak Akbar memaparkan materi tentang Strategi Pemasaran Buku. Beliau memperkenalkan sebuah strategi dalam memasarkan buku yang disebut: Strategi 4P. Apa itu 4P? Berikut ulasannya.
1. Produk
Strategi produk pada dasarnya merupakan bagian dari kerja-kerja penerbit. Penulis hanya memberikan masukan kepada pihak penerbit mengenai target atau sasaran dari buku yang ditulis.

2. Price
Strategi harga juga menjadi tanggung jawab penerbit. Menurut pak Akbar, ada dua strategi dalam menentukan harga buku yaitu harga buku secara umum dan harga premium. Harga premium atau lebih mahal diberikan jika buku tersebut memiliki kelebihan dari buku yang lain.

3. Place of Distribution
Ada dua jenis strategi distribusi produk (termasuk buku), yaitu:
a. Distribusi tradisional merupakan proses penjualan buku melalui toko-toko buku dengan jaringan nasional maupun lokal.
b. Distribusi non tradisional adalah distribusi buku melalui jalur di luar toko buku pada umumnya. Contohnya melalui sistem MLM (Multilevel Marketing), penjualan langsung, marketplace atau e-commerce (Bukalapak, lazada, shopee, dan lain-lain).

4. Promotion
Strategi promosi dapat dilakukan oleh penerbit maupun penulis. Pak Akbar menjelaskan bahwa ada tujuh cara yang dapat ditempuh oleh seorang penulis dalam mempromosikan bukunya.
a. Launching Buku.
Kegiatan ini merupakan program peluncuran buku baru. Tempatnya boleh di mana saja. Kegiatan promosi ini biasanya diselenggarakan dan dibiayai oleh penerbit ataupun penulis. 

b. Bedah Buku. 
Bedah buku adalah sebuah diskusi yang membedah atau membahas mengenai isi buku kita. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara offline maupun online. Pada umumnya program ini bekerjasama dengan lembaga-lembaga tertentu.

c. Seminar/Workshop.
Seminar atau workshop yang dimaksud di sini adalah seminar yang memiliki tema sesuai dengan buku kita. Sebagai perkenalan buku, seminar perdana boleh saja digratiskan. Kegiatan ini juga dapat dilaksanakan secara offline dan online.

d. Membangun Komunitas.
Komunitas yang dibangun tentu harus selaras dengan tema buku kita. Jika buku bertema pendidikan, maka yang dibangun adalah komunitas para pendidik dan tenaga kependidikan. Begitu pula dengan tema-tema yang lain.

e. Membangun Jaringan Reseller.
Reseller adalah orang yang mau menjual buku kita dan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualannya. Biasanya reseller mendapatkan komisi sebanyak 20 sampai 30 persen dari harga jual. Selain itu, reseller juga mesti dibekali mengenai garis besar materi yang dibahas dalam buku tersebut.

f. Menjual Melalui Marketplace.
Berjualan di marketplace seperti Bukalapak, lazada, shopee, tokopedia, dan sebagainya akan semakin memperluas promosi dan distribusi buku kita.

g. Memanfaatkan Media Sosial.
Usahakan setiap hari kita mempromosikan buku kita di media sosial (Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, dan lain-lain. Namun, harus diingat agar tidak melulu menampilkan gambar buku jualan kita di medsos agar orang-orang tidak merasa bosan. Sebaiknya promosi diawali dengan sharing-sharing baru selling. Kita bagikan pengetahuan atau tips tertentu lalu diakhiri dengan jualan. Begitu loh, pemirsa.

Di akhir pemaparan materi, pak Akbar memberikan penguatan bahwa ada 3 keterampilan yang wajib dimiliki oleh seorang penulis dalam proses promosi bukunya.
1. Public Speaking yaitu keterampilan berbicara di depan umum. Keterampilan ini akan sangat bermanfaat jika penulis diminta mengisi sebuah acara secara offline maupun online. 
2. Copywriting adalah kemampuan membuat kata-kata menarik untuk promosi dan penjualan. Keterampilan ini merupakan hal yang paling penting dimiliki dalam proses penjualan di abad 21.
3. Pemanfaatan teknologi informasi.
Era digital saat ini merupakan era teknologi informasi sehingga penjualan buku juga dapat menggunakan media sosial. Facebook, Twitter, Instagram, WhtasApp Group, YouTube, aplikasi Zoom, Webex, dan lain-lain bisa digunakan untuk jualan.

Di sesi tanya jawab, pak Akbar diberondong pertanyaan oleh para peserta. Saya hanya menyimak saja sebab malam ini saya kedatangan tamu. Adik ipar saya datang berkunjung dan bermalam di mukim kami. 

Ada satu hal yang paling menarik dari jawaban pak Akbar atas pertanyaan dari Bu Diyah dari Malang. Pak Akbar mengatakan bahwa Tuhan membekali manusia dengan akal yang sempurna. Maka sebagai penulis, sebaiknya gunakan potensi tersebut untuk merencanakan, mengerjakan, dan mengevaluasi program pemasaran buku. Rencanakan, kerjakan, dan evaluasi! Begitu seterusnya sampai akhir masa. 

 Lalu, pak Akbar juga mengumumkan sebuah kegiatan pendidikan dan latihan (Diklat) intensif Menulis Buku yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Biayanya sepadan dengan harga dua buku anggitan pak Akbar yang masing-masing seharga 100 ribu rupiah. Selain mendapatkan buku UKTUB dan The Power of Man Jadda Wajada, peserta pelatihan nantinya juga akan memperoleh banyak ilmu tentang kepenulisan. 

Selain itu, ada juga program Mentoring Menulis Buku Tunggal selama 8 bulan dengan tiga kategori. Tentunya kedua kegiatan ini (Diklat dan Mentoring) akan dipandu langsung oleh pak Akbar. Wah, ini peluang yang menarik nih, pemirsa. Ayo, tunggu apa lagi?


Waktu Kegiatan: Rabu, 26 Mei 2021
Resume ke: 18
Tema: Teknik Promosi Buku
Narasumber: Akbar Zainuddin, MM., MJW.
Gelombang: 18

Senin, 24 Mei 2021

LANGKAH MUDAH MENYUSUN BUKU

Cuaca mendung sejak sore tadi. Udara yang begitu sejuk menyebabkan raga ini lebih betah rebahan di ruang keluarga. Tapi rebahannya jangan lama-lama yah! Sebab masih ada pekerjaan rutin di DPR yang belum selesai. Sambil menunggu kegiatan di WAG dimulai, saya bereskan pekerjaan di dapur. Semoga saja bisa kelar secepatnya, pemirsa.

Dari flyer yang beredar, dijadwalkan bahwa malam ini kami akan menerima materi tentang langkah menyusun buku. Bu Rita Wati selaku moderator akan mendampingi narasumber dalam memaparkan materinya. Narasumber yang akan berbagi ilmu dan pengalaman ke seluruh peserta bernama pak Yulius Roma Patandean, S. Pd.

Sebelum memulai kegiatan, Bu Kanjeng mewakili Omjay beserta seluruh tim relawan menyampaikan pengantar materi. Beliau memberi motivasi kepada seluruh peserta kelas belajar menulis bersama PGRI agar memanfaatkan waktu dan peluang yang ada untuk belajar secara maksimal. Saya senang mendengar kalimat demi kalimat yang diutarakan oleh Bu Kanjeng. Terima kasih, Bu!

Selanjutnya Bu Rita mengambil alih kegiatan dan langsung membuka acara. Beliau mengingatkan kembali aturan selama perkuliahan berlangsung. Beliau juga mengajak seluruh peserta untuk memulai kegiatan ini dengan melafadzkan kalimat Basmalah bagi peserta yang beragam Islam dan berdoa sesuai keyakinan masing-masing bagi umat non-muslim.

Bu Rita memberikan informasi bahwa narasumber malam ini sedang dalam perjalanan ke kampungnya di Tana Toraja. Beliau meminta kami semua untuk mendoakan pak Yulius agar selamat dalam perjalanan sampai tiba di rumahnya. Dengan demikian pak Yulius atau biasa juga disapa dengan nama Pak Roma bisa segera bergabung di kegiatan malam ini. Aamiin...

Meskipun demikian, Bu Rita menjelaskan bahwa materi pak Roma sudah dititipkan ke moderator. Jadi, kami selaku peserta tetap bisa menerima materi walaupun narasumbernya belum bergabung di WAG. Alhamdulillaah yah, pemirsa! 

Sebelum Bu Rita membagikan materi, beliau mengirim link tentang biodata narasumber. Informasi mengenai pak Roma bisa dibaca di link https://romadean.blogspot.com/2021/01/profil.html atau melalui channel YouTube beliau di https://www.youtube.com/RomaPatandean/

Pak Roma adalah seorang guru muda penuh bakat dan prestasi loh, pemirsa! Beliau kelahiran Tana Toraja pada tanggal 06 Juli 1984. Kami berasal dari propinsi yang sama yakni Propinsi Sulawesi Selatan. Meskipun saya tidak kenal beliau, tetapi saya jadi bangga dibuatnya!

Pak Roma adalah seorang guru Bahasa Inggris dan sudah berkali-kali pindah tugas dinas di kabupaten Tator (singkatan dari Tana Toraja). Saat ini beliau merupakan salah satu guru di SMAN 5 Tana Toraja. Selain sebagai guru, beliau juga terdaftar sebagai seorang dosen loh, pemirsa! Kereen..., kereen...!

Menurut pak Roma, setiap penulis pasti memiliki naskah yang telah ditulisnya. Tema yang diangkat tentunya bermacam-macam sesuai dengan passion dan minat penulis itu sendiri. Beliau menyatakan bahwa impian setiap penulis untuk menerbitkan buku solo ber-ISBN dapat terwujud jika penulis tersebut memulai langkah pertama dalam menyusun buku.

Ada delapan langkah mudah menyusun buku berdasarkan pengalaman pak Roma.
1. Miliki keyakinan yang kuat bahwa naskah yang telah ditulis merupakan naskah yang paling unik diantara semua buku yang telah diterbitkan.
2. Baca ulang urutan judul bab dan sub-bab yang ada dalam TOC (Table of Content).
3. Pastikan pengaturan kertasnya sudah tepat (ukuran A5) dan jumlah halaman sesuai dengan standar yang ditetapkan. Jumlah halaman isi buku paling sedikit 75 halaman.
4. Upayakan membuat buku solo dan usahakan agar ada kata pengantar dari orang lain di buku tersebut.
5. Tambahkan prakata sebagai penulis di bagian awal buku.
6. Cantumkan sumber gambar yang digunakan dan ada dalam buku yang hendak diterbitkan.
7. Lakukan proses editing dan finalisasi.
8. Baca ulang naskahnya agar dapat dipastikan bahwa tidak ada lagi yang kesalahan serta urutan atau anatomi buku sudah sesuai.

Berikutnya, pak Roma juga membagikan beberapa link yang dapat membantu penulis pemula seperti saya dalam menyusun buku. Hal ini bertujuan untuk memudahkan penulis pemula seperti saya dalam menyusun buku.
1. Cara membuat judul, judul bab, dan sub-bab dalam buku secara otomatis
https://youtu.be/jXPr59aWJSc
2. Cara membuat indeks dalam naskah berbentuk buku
https://youtu.be/mS8bfNZT-rA
3. Cara membuat nomor halaman yang berbeda dalam satu file tulisan
https://youtu.be/OSjo5i9TgQE
4. Cara membuat daftar isi, kutipan, indeks, dan daftar pustaka secara otomatis
https://youtu.be/eePQwyHAcjw

Selang beberapa menit kemudian, Bu Rita mengabarkan bahwa pak Roma telah sampai di rumahnya. Alhamdulillaah! Beliau segera bergabung di WAG dan memberikan penguatan-penguatan di sesi tanya jawab. Saya segera mengirim pertanyaan dan tentu saja saya tidak lupa memperkenalkan diri saya ke beliau. Terus terang, saya senang sekali bisa menerima materi yang sangat bermanfaat dalam menulis buku.

Kali ini saya mengajukan pertanyaan teknis ke narasumber terkait penomoran halaman buku. Saya pernah belajar memberi nomor halaman secara otomatis melalui YouTube. Saya juga pernah mempraktekkannya secara otodidak tetapi saya menemukan beberapa kendala. Semoga pak Roma bisa memberikan solusi dari kendala yang pernah saya hadapi. 

Pada pertemuan ketujuh belas ini saya merupakan penanya kedua. Sebelumnya, ada pak Syaechu Nasaruddin dari Bojonegoro yang mengajukan pertanyaan. Tak lama setelah Bu Rita meneruskan pertanyaan saya ke WAG, pak Roma pun memberikan jawabannya.

Pertanyaan pertama saya, "bagaimana mengatur nomor halaman jika sudah telanjur menggunakan penomoran manual?" Lalu dijawab oleh pak Roma bahwa caranya sangat mudah. Penomoran manual biasanya ditempatkan dalam kotak-kotak. Jika ingin memberi nomor halaman secara otomatis, maka penomoran dalam kotak-kotak tersebut langsung dihapus saja. Setelah itu, barulah dimulai dengan langkah praktis memberi nomor halaman otomatis seperti yang dijelaskan dalam kanal YouTube pak Roma.
Pertanyaan yang kedua, "Apa solusinya kalau ternyata ada bagian yang ketinggalan dan belum diatur sectionnya, padahal bagian yang lain sudah fix?" Pak Roma menjelaskan bahwa penulis langsung saja mengatur bagian yang belum disetting sebab itu tidak akan mempengaruhi bagian lain yang sudah teratur. Jadi, diatur ulang lagi melalui page layout. Beliau juga mengingatkan agar mengklik fitur 'non aktifkan LINK TO PREVIOUS' sehingga section sebelumnya tidak mempengaruhi section berikutnya.

Alhamdulillaah, akhirnya kendala saya selama ini bisa teratasi. Sebagai penguatan, pak Roma juga menyampaikan bahwa naskah yang biasa-biasa saja akan tampak lebih elegan jika ditulis dan disusun dengan rapi. Selain itu, naskah yang tersusun rapi juga mampu membuat pihak penerbit 'jatuh cinta'. Kalau sudah cinta, penerbit tentu akan segera meminang dan menerbitkan naskah kita. Tentu ini yang menjadi impian para penulis.Terima kasih atas penjelasannya, pak Roma! 

Sebagai tambahan, pak Roma juga memberikan tips bagi peserta mengenai tema tulisan. Menurutnya, jika ada beberapa tema yang telah ditulis dan ternyata tidak ada kaitannya dengan tema yang lain, maka tulisan tersebut boleh dikumpulkan menjadi satu buku. Kumpulan tema yang berbeda itu bisa dijadikan naskah buku berbentuk BUNGA RAMPAI. Simpel toh, pemirsa?

Sebagai closing statement, pak Roma menuturkan bahwa menyusun naskah buku adalah momen menikmati tulisan. Jadi, nikmatilah tahap demi tahap menyatukan naskah-naskah buku kita. Tetap semangat duhai, diri ini!!!






Waktu kegiatan: Senin, 24 Mei 2021
Resume ke: 17
Tema: Langkah Menyusun Buku
Narasumber: Yulius Roma Patandean, S. Pd.
Gelombang: 18








Jumat, 21 Mei 2021

MENULIS BUKU NON FIKSI ALA BU IIN

Alhamdulillaah, setelah beberapa hari libur lebaran, akhirnya malam ini kami kembali mengikuti perkuliahan tentang kepenulisan. Saya sudah berkali-kali menanyakan mengenai jadwal kuliah ini ke Bu Aam selaku salah satu tim relawan di kelas belajar menulis gelombang 18. Hari ini beliau menyampaikan kabar gembira bahwa kami akan menerima materi dan narasumbernya sudah siap.
Jadwal kegiatan tidak lagi berlangsung di siang hari seperti saat di bulan Ramadhan. Akan tetapi waktunya kembali ke jadwal pertama perkuliahan, yakni pukul 19.00-21.00 WIB. Artinya, bertepatan dengan pukul 20.00-22.00 WITA. 

Malam ini kelas dipandu oleh Bu Aam Nurhasanah. Sebelum memulai, Bu Aam mengunci grup, mengingatkan mengenai aturan selama perkuliahan dan menyapa narasumber. Aturan di kelas menulis tidak mengalami perubahan sedikit pun. Masih sama dengan pertemuan pertama sampai kelima belas.

Adapun narasumber malam ini yaitu Bu Musiin, M. Pd. Beliau seorang guru di Kediri. Beliau merupakan jebolan kelas belajar menulis bersama PGRI gelombang 8. Satu angkatan dengan Bu Aam dulu. Hanya saja, menurut Bu Aam, mereka tidak senasib. Bu Musiin yang akrab disapa Bu Iin berhasil menuntaskan tugas di gelombang 8 sedangkan Bu Aam harus mengulang di gelombang 12.

Meskipun demikian, saat ini Bu Aam sudah berhasil menaklukkan dirinya dan melejitkan banyak karya berbentuk buku. Bahkan kini beliau telah menjadi kurator beberapa buku antologi dan sukses menjadi pemenang dalam lomba guru blogger se-Indonesia. Selamat, Bu Aam!

Materi yang dibahas oleh Bu Iin adalah tentang konsep buku non-fiksi. Sebelum memaparkan materi tersebut, beliau menceritakan mengenai pengalaman menulis buku tandem dengan Prof Ekoji. Saat ini buku Bu Iin sudah duduk manis di etalase toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. Selain Bu Iin, ada delapan teman seangkatannya yang juga berhasil menerbitkan buku di penerbit Andi. Keren banget yah, pemirsa!

Menurut Bu Iin, untuk memupuk kecintaan dalam menulis seorang penulis harus kembali pada niat awalnya. Apa yang mendasari atau menjadi alasan kuat seseorang menjadi penulis. Kalau pengalaman Bu Iin, ada tiga keinginan mendasar yang beliau miliki sebelum menulis, yakni:
1. Ingin mewariskan ilmu dengan buku
2. Ingin memiliki buku solo yang terpajang di toko buku online maupun offline.
3. Ingin mengembangkan profesi sebagai guru.

Selain itu motivasi dari dirinya sendiri, Bu Iin juga menjadikan quote dari beberapa tokoh sebagai motivasinya dalam menulis. Diantaranya adalah quote dari Imam Al-Gazali berikut.
 Ditambah lagi dengan kalimat motivasi dan sumber inspirasi dari penulis terkenal bernama Pramoedya Ananta Toer.
Secara pribadi, saya juga demikian. Saya memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menjadi bagian dari peradaban dunia. Itulah alasannya sehingga saya masih berada di kelas ini, mengikuti aturan main dalam belajar, dan berusaha menuntaskan tugas resume semaksimal mungkin. Mohon doa dan dukungannya yah, pemirsa!

Lebih lanjut, Bu Iin menjelaskan bahwa pada dasarnya ada tiga pola dalam menulis buku non-fiksi.
1. Pola Hierarkis, yakni menulis berdasarkan tahapan-tahapannya. Artinya penulisan dimulai dari yang mudah ke hal yang lebih sulit ataupun dari sesuatu yang sederhana hingga ke materi yang lebih kompleks. Contohnya: buku pelajaran.
2. Pola Prosedural, yaitu menulis diurutkan berdasar pada langkah-langkah dalam prosesnya. Misalnya: buku panduan.
3. Pola Klaster, merupakan penulisan yang disusun secara poin per poin atau dari satu bagian ke bagian lainnya. Pola ini diterapkan dalam menulis buku kumpulan tulisan (antologi) maupun buku berisi beberapa bab yang memiliki tema yang sama.

Berikutnya, Bu Iin memaparkan dengan sangat rinci tentang empat langkah dalam menulis buku non fiksi.
1. Kegiatan Pratulis
Pada langkah pertama ini, penulis harus melewati beberapa tahapan menulis. Ada 9 tahap yang dijelaskan oleh Bu Iin.
a. Menentukan tema
b. Menemukan ide
c. Merencanakan jenis tulisan
d. Mengumpulkan bahan tulisan
e. Bertukar Pikiran 
f. Menyusun daftar
g. Meriset
h. Membuat mind-mapping
i. Membuat kerangka

Adapun tema yang biasa dibahas dalam buku non fiksi adalah tentang pendidikan, keluarga, motivasi, parenting, dan lain sebagainya. Dalam menulis buku non fiksi, Bu Iin berkiblat pada panduan yang bisa ditemukan melalui channel YouTube pak Yulius Roma Patendean di https://www.youtube.com/watch?v=eePQwyHAcjw&feature=youtu.be

Dalam video tersebut terdapat istilah Anatomi Buku. Menurut Bu Iin, dengan mengikuti nasehat pak Yulius, maka tulisan akan menjadi rapi dan tertata dengan baik mulai dari bagian awal sampai halaman terakhir buku.

Berikut susunan atau anatomi buku:
a. Halaman judul
b. Halaman persembahan (boleh ada boleh tidak)
c. Halaman daftar isi
d. Halaman kata pengantar (opsional)
e. Halaman prakata
f.  Halaman ucapan terima kasih (jika ada)
g. Bagian atau bab-bab
h. Halaman lampiran (kalau ada)
i.  Halaman glosarium
j. Halaman daftar pustaka
k. Halaman indeks
l. Halaman tentang penulis

Wow begitu runtut dan lengkap informasi yang diberikan. (Saya suka, saya suka!) Insya Allah anatomi buku ini akan saya simpan dengan sebaik-baiknya.

2. Menulis Draf
Langkah kedua ini kegiatan menulis dilakukan dengan tanpa batasan yang mengikat. Yang terpenting adalah menulis dan terus menulis. Konsep tulisan dituangkan melalui media tulis dengan prinsip kebebasan. Selain itu, di tahap ini tidak terlalu dipentingkan mengenai kesempurnaan tulisan. Akan tetapi difokuskan pada penulisan ide-ide dalam benak penulisnya.

3. Merevisi Draf
Pada langka ini, penulis harus melakukan revisi terhadap sistematika atau struktur tulisan dan cara penyajiannya. Penulis juga harus memeriksa gambaran umum dari naskah tulisannya.

4. Menyunting Naskah
Langkah terakhir yang harus dilakukan dalam menulis buku non fiksi adalah menyunting Naskah berdasarkan pada KBBI dan PUEBI. Ada lima hal yang harus diperhatikan dalam proses menyunting Naskah, yaitu: 
a. Ejaan
b. Tata Bahasa
c. Diksi
d. Data dan fakta
e. Legalitas dan norma

Narasumber menyatakan bahwa menulis merupakan sesuatu yang penuh dengan hambatan. Pernyataan beliau agak bertolak belakang dengan narasumber lainnya yang menganggap bahwa menulis itu mudah. Hambatan yang sering ditemukan oleh penulis berkisar pada hambatan waktu, kreativitas, teknis, tujuan, dan psikologis.

Meskipun demikian, Bu Iin juga memberikan obat penawar bagi hambatan-hambatan tersebut dengan membagikan tips kepada peserta.
Adapun cara mengatasi hambatan dalam menulis menurut Bu Iin ada empat.
1. Banyak membaca.
2. Mencari inspirasi di lingkungan sekitar.
3. Disiplin menulis setiap hari.
4. Pergi ke pasar dan memasak.

Bu Iin memiliki hobi memasak, pemirsa. Jadi beliau memasukkan aktivitas memasak sebagai mood-booster dalam menulis. Bagaimana dengan Anda? Temukan mood-booster kita berdasarkan hobi yang dimiliki, yah! Selamat mencoba!

Malam ini saya tidak sempat mengajukan pertanyaan ke narasumber hebat. Bukan apa-apa. Pasalnya, saat ini saya sedang tidak di rumah. Malam ini ada pertemuan keluarga yang harus saya hadiri di mukim kakak saya yang tertua. Jadinya, saya harus mengikuti dua agenda penting secara bersamaan. Sambil ikut perkuliahan, juga saya duduk manis di ruang tengah rumah kakak sulungku.

Meskipun demikian, tak ada satu pembahasan pun yang terlewati. Di sini maupun di sini. Eh, apa maksudnya ini yah, pemirsa? Silakan dimaknai saja sendiri. Maklumlah, saya harus membagi perhatian di dua hal yang berbeda. Keduanya berlangsung di dua dunia yang juga berbeda,  secara online  dan offline. 

Saya ucapkan terima kasih dan syukur tak terhingga kepada Allah subhaanahu wa ta'ala yang telah memberikan pertolongan-Nya kepada saya. Semoga apa yang kita lakukan dapat mendatangkan keberkahan dalam hidup kita semua. Aamiin...

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya juga saya sampaikan kepada Bu Iin sebagai narasumber dan Bu Aam selaku moderator yang telah meluangkan waktu dan berbagi kepada kami. Semoga Allah memberikan keberkahan hidup kedua ibu penulis hebat Indonesia.








Waktu Kegiatan: Jumat, 21 Mei 2021
Resume ke: 16
Tema: Konsep Buku Non Fiksi
Narasumber: Musiin, M. Pd.
Gelombang: 18

MENYAMBUT CAHAYA ILMU

Jarum jam menunjuk angka 4, aku sudah siap menunggu jemputan. Hari ini aku bersama tiga rekan kerja diberi tugas mengikuti semin...