Jumat, 07 Mei 2021

MENJADI PROOFREADER BAGI TULISAN SENDIRI

Pertemuan kelima belas hari ini dipandu oleh Bu Rita Wati. Sebelum memandu acara, beliau terlebih dahulu menyapa dan memberi salam kepada seluruh peserta. Selain itu, beliau juga menyampaikan susunan acara pada hari ini. 

Selanjutnya, beliau memperkenalkan narasumber yang akan membagi ilmu dan pengalamannya kepada peserta kelas belajar menulis bersama PGRI. Susanto, S. Pd. adalah nama narasumber pada hari ini. Beliau akrab disapa dengan sebutan Pak De. Beliau seorang guru SD Negeri Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Eh, pak De ternyata alumni kelas belajar menulis gelombang 15 loh, pemirsa. Berarti 3 gelombang sebelum saya.
Tema yang akan dibahas oleh pak De yaitu tentang Proofreading sebelum menerbitkan tulisan. Istilah ini begitu asing bagi saya sehingga sangat memacu keingintahuan saya. Apakah ini sama prosesnya dengan editing atau bagaimanakah sebenarnya? Ayo kita simak penjelasannya!

Menurut pak De, proofreading pada dasarnya merupakan aktivitase mengoreksi atau memeriksa kesalahan dalam teks dengan cermat sebelum dipublikasikan atau dibagikan ke orang lain. Aktivitas ini dilakukan pada bagian akhir setelah tulisan selesai. Lalu, samakah dengan kegiatan mengedit? Ternyata tidak, pemirsa!

 Mengedit dan mengoreksi merupakan dua langkah yang berbeda dalam proses merevisi teks. Pengeditan dapat melibatkan perubahan besar pada konten, struktur, maupun bahasa. Misalnya, dalam sebuah teks terdapat kalimat majemuk yang terdiri dari banyak sekali kalimat tunggal, maka yang hrua dilakukan adalah proses mengedit. Kalimat majemuk tersebut diurai menjadi beberapa kalimat yang relatif lebih ringkas.

Sedangkan proofreading hanya berfokus pada kesalahan kecil dan inkonsistensi. Contohnya apabila ada sebuah tulisan yang sudah bagus, uraiannya sesuai tema, struktur bahasanya bagus, dan kalimat yang digunakan juga tidak begitu panjang. Biasanya yang dilakukan kemudian hanyalah proses proofreading. Hal yang dikoreksi mungkin hanya berkisar pada penggunaan tanda baca ataupun pemakaian huruf kapital pada kata-kata tertentu saja.

Ada 4 langkah penting dan bersinergi dalam melakukan proses editing dan proofreading.
1. Pengeditan konten
Aktivitas ini merupakan revisi draf awal teks. Terkadang yang dilakukan adalah memindahkan, menambahkan, menghapus, atau bahkanengubah konten secara signifikan.

2. Pengeditan baris
Dalam hal ini kemungkinan terjadi perubahan kata, frasa, kalimat, dan penyusunan ulang paragraf untuk meningkatkan alirah teks. Tujuannya adalah untuk mengkomunikasikan cerita, ide, ataupun argumen dengan sebaik-baiknya.

3. Menyalin pengeditan
Langkah ini dilakukan untuk memoles kalimat agar menjadi sempurna. Dalam artian bahwa tata bahasa yang digunakan sudah benar, sintaksnya jelas, dan konsisten dalam gaya tulisan. Aktivitas menyalin ini tidak melakukan perubahan konten teks sedikit pun, kecuali jika ada kalimat bermakna ambigu atau multitafsir. 

4. Proofreading
Nah, ini yang dimaksud sebagai aktivitas terakhir setelah tulisan selesai. Proofreading dilakukan mengacu pada empat hal, yakni:
a. Mengecek ejaan. Seharusnya dalam proses ini tetap berkiblat pada KBBI. Namun pada kata-kata tertentu menunjukkan sebuah gaya tulisan yang khas penerbit.
b. Memenggal kata-kata dan ini tetap mengacu pada KBBI.
c. Konsistensi nama dan ketentuan.
d. Memprhatikan judul bab dan penomorannya.

Pada hakikatnya, aktivitas proofreading dilakukan dengan memposisikan diri sebagai pembaca pertama sebuah tulisan. Hanya pembacalah yang dapat menilai sebuah tulisan. Dengan demikian, jika proses proofreading telah selesai diharapkan agar tulisan kita lebih mudah dicerna oleh pembacanya.

Menurut nasarumber, beliau sebenarnya bukan seorang proofreader ataupun editor profesional. Akan tetapi beliau diberi kesempatan untuk melakukannya dan berhasil. Ada beberapa karya buku penulis hebat di PGRI yang menggunakan jasa beliau sebagai editor maupun proofreader. Ada bukunya Bu Aam, Bu Kanjeng, dan penulis hebat lainnya. Dan...ternyata buku antologi kami sebagai peserta gelombang 18 juga diedit oleh pak De loh, pemirsa!
Dengan tingginya 'jam terbang' beliau di dunia pengeditan, sehingga ada begitu banyak ilmu, informasi, dan pengalaman yang beliau bagikan pada peserta. Salah satu diantaranya adalah bagaimana memperlakukan tulisan sebelum diterbitkan di blog masing-masing.
1. Hindari kesalahan penulisan atau thypo.
2. Perhatikan penggunaan tanda baca dalam tulisan (tanda koma, tanda titik, tanda seru, tanda tanya, maupun pemakaian spasi).
3. Penggunaan kata 'di' harus disesuaikan dengan fungsinya. Apakah berfungsi sebagai awalan ataukn sebagai kata depan.
4. Pahami aturan ejaan yang ada dalam PUEBI.
5. Hitunglah jumlah kata dalam sebuah kalimat. Jumlah kata maksimal yang disarankan pada umumnya terdiri dari 20 kata.
6. Gunakan dua alat proofreading yakni PUEBI daring dan KBBI daring.

Dari penjelasan narasumber, saya dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa seorang penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Dengan menjadi pembaca pertama pada tulisan kita secara otomatis kita telah melakukan langkah awal dari proses editing dan proofreading. 
Ketika kita membaca tulisan kita sendiri, sebaiknya dengan bersuara (lirih ataupun lantang) sehingga dapat dipastikan bahwa pesan yang kita maksud sampai ke pembacanya nanti. 

Aktivitas proofreading kedua juga bisa dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita. Sahabat, saudara, maupun rekan kerja yang akrab dengan kita juga bisa melakukannya. Itupun kalau mereka bersedia, hehehe... Selain itu, ada juga penyedia jasa editor dan proofreader berbayar loh. Informasinya dapat diperoleh melalui google yah, pemirsa!

Sebelum mengakhiri perkuliahan, pak De memberikan oleh-oleh berupa slide berisi hal-hal yang sering ditemui dalam proses editing dan proofreading. Terima kasih oleh-olehnya, pak De! Insya Allah saya akan menjadi proofreader terbaik untuk tulisan saya sendiri. Aamiin...






Waktu pertemuan: Jum'at, 07 Mei 2021
Resume ke: 15
Tema: Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan
Narasumber: Susanto, S. Pd.
Gelombang: 18






17 komentar:

  1. Mantul resumenya. Komplit dan cepat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah. Terima kasih sudah mampir, Bu.

      Hapus
  2. Mantap sekali. Teknik mengolah kalimatnya oke banget. Terima kasih sudah dirangkumkan:
    1. Hindari kesalahan penulisan atau thypo.
    2. Perhatikan penggunaan tanda baca dalam tulisan (tanda koma, tanda titik, tanda seru, tanda tanya, maupun pemakaian spasi).
    3. Penggunaan kata 'di' harus disesuaikan dengan fungsinya. Apakah berfungsi sebagai awalan ataukn sebagai kata depan.
    4. Pahami aturan ejaan yang ada dalam PUEBI.
    5. Hitunglah jumlah kata dalam sebuah kalimat. Jumlah kata maksimal yang disarankan pada umumnya terdiri dari 20 kata.
    6. Gunakan dua alat proofreading yakni PUEBI daring dan KBBI daring.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah. Terima kasih sudah berkunjung, pak. Saya masih perlu banyak belajar sama bapak ini. Mohon bimbingannya, pak!

      Hapus
  3. Mantul bu. Semangat terus untuk menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah. Terima kasih sudah disupport, Bu Okmi.

      Hapus
  4. Bu Sekretaris makin mantul tulisannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah. Saya banyak belajar dari Bu ketuaku yang hebat.

      Hapus
  5. Resume yang luar biasa, keren bun. Mudah2an resumenya jadi buku ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Tulisan Bu Hasanah juga oke banget, loh.

      Hapus
  6. Resumenya renyah bu. Ga bosan bacanya bahasanya juga mudah dipahami👍🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah. Terima kasih sudah mampir, Bu!

      Hapus
  7. semakin keren .. resume ny ibu. mantap 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah. Bu Weni juga tulisannya mantap tuh.

      Hapus
  8. Semangat bu, sedikit perjuangan lagi sdh jadi buku

    BalasHapus
  9. Aamiin... Ayo, kita sama-sama berjuang Bu!

    BalasHapus

JANUARI BER-HAB (Part 1)

Tahun 2021 telah meninggalkan semesta. Dia pergi dengan membawa berjuta kenangan dan warna-warni kehidupan.  Kini giliran tahun ...